24 September 2016

Pilkada Rasa Pilpres. Sedikit Pendapat Saya Mengenai Pilgub DKI

Gambar dari: http://www.harnas.co/
Saat ini sampai beberapa bulan kedepan, panggung politik Indonesia tertuju ke Ibukota. Yup gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) atau Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta yang tinggal mengitung bulan ini sudah menyelesaiakan masa pendaftaran calon tadi malam. Bahkan bisa dikata panasnya suasana pilkada ini sudah dirasakan sejak beberapa bulan yang lalu.

Berbeda dengan daerah lain, sebagai ibukota tentunya Pilgub DKI akan menjadi sorotan nasional. Terbukti dalam beberapa bulan terakhir, media media nasional dihiasi dengan panasnya pemberitaan seputar pilkada ini. Sampai sampai kalau saya lihat FB yang bukan orang Jakarta pun banyak yang ikut ikutan berkomentar. Seperti mulai dari berita tentang niat petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akan maju melalui jalur independen dengan mencoba mengmpulkan dukungan 1 juta KTP, meskipun kemudian tidak jadi karena akhirnnya memilih dukungan partai.  Sampai berita mengenai seorang politisi bernama Habiburokhman yang menyatakan berani terjun dari monas jika Ahok benar benar berhasil mengumpulkan 1 juta KTP, namun akhirnya sama dengan sebelumnya tidak jadi juga. alahhh.... 

Isu isu seputar siapa bakal calon yang akan melawan petahana juga tidak kalah seru. Tentunya masih segar di ingatan bagaimana di awal-awal beberapa tokoh digadang untuk melawan Ahok, meskipun lagi-lagi mundur alias tidak jadi karena beberapa alasan. Padahal dari nama-nama yang mencuat itu, berpotensi besar untuk menggoyahkan elektabilitas koh Ahok.

Sampai akhirnya tadi malam, saat mendekati jam jam terakhir pendataran calon di KPU Jakarta, akhirnya menjadi jelas siapa saja yang akan bertanding di pilgub  DKI. Seperti yang sudah pada tahu dari berita-berita di media, 3 pasangan calon secara resmi telah melakuan pendaftaran yaitu 
  • Basuki Tjhaja Purnama (Ahok) - Djarot Syaiful Hidayat 
  • Agus Harimurti Yudhoyono - Silviana Murni, dan 
  • Anies Baswedan - Sandiaga Uno.
Gambar dari : http://kpujakarta.go.id/
Satu yangmenarik dari pencalonan tiga pasanagan tadi adalah intrik politik yang tidak tanggung-tanggung harus melibatkan langsung para elit partai pendukung sampai ke jajaran yang tertinggi. Sebut saja PDIP melalui restu ketua sang Ketua Umum Megawati Soekarno Putri akhirnya megusung Ahok-Djarot bersama partai Golkar, Nasdem dan Hanura. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama koalisi 4 partai (Demokrat, PKB, PPP, PAN) yang "merelakan" putra sulungnya mundur dari TNI untuk maju dalam pilgub DKI dengan pasangan Silviana Murni. Sampai dengan Prabowo Subianto bersama Gerindra dan PKS yang menunjuk Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang merupakan 2 sahabat lama untuk ikut menantang 2 pasangan sebelumnya.

Tentunya tanpa menafikan keterlibatan partai-partai dan tokoh lain dalam koalisi-koalisi  partai tersebut. Hadirnya nama besar Megawati, SBY dan Prabowo menjadi daya tarik tersendiri dalam pilkada ini. Sehingga kemudian dengan segala isu, suasana, intrik, dan keterlibatan tokoh-tokoh besar tersebut, tak.salah jika kemudian pemilihan gubernur DKI saat ini disebut sebagai PILKADA RASA PILPRES

Secara pribadi, sekalipun melihat menariknya pasangan calon yang akan maju, sudah memutuskan dari awal bahwa saya akan Golput dalam pilkada DKI ini. Satu alasannya.. karena saya bukan warga Jakarta. hehe

Yachh... meskipun saya bukan pengamat politik, tak salah jika saya menyebut, menurut pendapat pribadi saya tentunya, bahwa ketiga pasangan calon ini punya kekuatan yang berimbang apalagi jika dilihat dari ketokohannya tanpa melihat partai pengusungnya.

Sebut saja Ahok-Djarot yang sudah memimpin Djakarta kurang lebih 3 tahun, bisa dikatakan cukup berhasil, sekalipun masih banyak kekurangan dan kontroversi di dalam kepemimpinannya. Duet Agus-Silviana, adalah calon pemimpin yang masih fresh, dan dengan umur yang masih muda tentu idealismenya tinggi, selain itu pasangan ini unggul dalam isu kesetaraan gender karena satu-satunya pasangan yang menyertakan perempuan. Terakhir Anies-Sandiaga, sekalipun diusung partai politik, namun keduanya adalah dari kalangan profesional dengan penguasaan di bidangnya masing-masing yang sudah bisa dilihat kualitasnya, Anies di bidang pendidikan dan Sandiaga di bidang Ekonomi.

Namun jika saya boleh prediksi, dengan mesin politik yang ada serta keunggulan sebagai petahana rasanya pasangan Ahok dan Djarot sepertinya masih akan unggul dibanding dua pasangan lain meskipun dengan skor yang tipis. Jika diibaratkan pertandingan sepakbola bisa jadi nantinya pilgub DKI ini harus ditentukan pemenangnya lewat adu penalti alias 2 putaran. Tapi lagi-lagi semua tergantung dari bagaimana ketiga pasangan dengan mesin partainya mengelola waktu yang tersisa beberapa bulan ini untuk menaikkan elektabilitas. Apapun bisa terjadi dalam pertandingan sepakbola, eh politik ding. Yang baca jangan ketawa ya, ini cuma pendapat pribadi saja. 

Sayangnya dengan segala keseruan tersebut, sekali lagi saya tidak bisa ikut merasakan secara langsung, ikut menyumbangkan suara dalam pilkada ini. Andaikan saya warga Jakarta sudah pasti saya akan memilih...... ehmmmmmm .. yaitu...... diri saya sendiri. Hehe, namanya juga berandai-andai.

Untuk warga Jakarta saya ucapkan selamat berpesta rakyat. Buatlah pilkada DKI ini menjadi contoh bagi pilkada di daerah lain. Calon sudah ada, tinggal pilih, siapapun yang jadi, doakan saja amanah dan terbaik buat Jakarta. Amiinn.

Orang Jember asli. Operator pendidikan di SMAN 1 Jember.  Suami dari seorang istri. Bapak dari dua anak yang guanteng-guanteng.


EmoticonEmoticon