25 November 2015

Hari Guru dan Cerita Saya Tentang Guru

ilustrasi guru (facebook.com/sman1jember)
Selamat Hari Guru Nasional untuk seluruh Guru di Indonesia !
"Jasamu Tiada Tara" dari kutipan kalimat lagu Jasamu Guru ini, sudah sepantasnyalah semua orang, utamanya yang pernah makan bangku sekolahan, berterima kasih pada sosok yang disebut Guru ini.

Saya sendiri, meskipun pernah mengajar dan masih berkecimpung di dunia pendidikan, merasa belum pantas jika diberi selamat di peringatan Hari Guru yang jatuh pada hari ini 25 November 2015. Itupun jika ada yang mau memberi selamat, hehehehe.
Kenapa saya bilang belum pantas ? pertama : belum bisa melakukan sesuatu yang seharusnya guru bisa lakukan, kedua : kontribusi saya utamanya dalam pembelajaran di sekolah, saya rasa masih banyak kurangnya , ketiga yang paling penting : saya sudah tidak mengajar lagi sejak tahun ajaran ini karena TIK, mata pelajaran yang saya ampu dihapus dari kurikulum 2013 (sedikit curhat nih)

Terlepas dari itu semua, saya ingin menuliskan beberapa pengalaman dengan guru atau selama saya menjadi Guru. Mudah-mudahan menarik untuk dibaca :

1. Guru Pertama
Sudah pasti guru pertama saya adalah orang tua. Dari mereka saya belajar banyak hal secara langsung. Guru Matematika saya adalah Ibu. Saya masih ingat waktu belum sekolah, Ibu pernah jengkel karena saya tidak bisa-bisa menghafal angka 2, padahal sudah diajari berkali-kali. Tapi Alhamdulillah berkat didikan awal dari Ibu meskipun tidak lulus SD, saya bisa menonjol di Matematika utamanya saat di TK, SD dan SMP. Sayangnya hal tersebut makin menurun saat di SMA dan Kuliah

2. Guru TK dan SD
Mungkin semua akan setuju, jika Guru di sekolah yang paling memperhatikan dan ingat sama muridnya adalah Guru TK dan SD. Bisa jadi karena mereka mengajar keseluruhan pelajaran di kelas tidak seperti Guru SMP atau SMA apalagi Dosen. Saya pernah membuktikannya, pertama saat saya bertamu ke rumah Guru SD, namanya Pak Heri. Ternyata beliau langsung mengenali saya, begitu beliau membukakan pintu. Padahal sudah hampir 15 tahun sejak lulus SD saya tidak pernah bertemu dengannya. Tapi tidak aneh juga sih, secara saat SD saya cukup populer, hehe. 
Yang lebih fenomenal adalah Guru TK saya, aduh lupa namanya (maafkan muridmu ini ibu), ceritanya saat pergi ke pasar malam bareng anak istri sekitar awal 2015 lalu. Di sebuah stan dengan lampu yang tidak begitu terang tiba-tiba saya disapa seorang ibu. Ibu itu bilang "Iki Husnan yo..??". Saya hanya bisa bilang "iya bu" sambil bingung dan bengong, tapi beliau buru-buru mengingatkan kalau dia adalah Guru saya  di TK Cut Nya' Dhien. Sontak  saya jadi malu,  buru-buru cium tangan beliau dan minta maaf. Beliau sempat menyindir saya  "Iki nang gurune lali, polae wes nduwe bojo ayu". Yang saya gak habis pikir, bagaimana beliau masih tetap menginat saya dalam waktu tak kurang dari 25 tahun, ditambah perubahan fisik yang tentunya sangat jauh berbeda dengan saat TK dulu. Mungkin itulah hebatnya guru TK

3. Saat SMP
Waktu SMP adalah waktu saya mulai nakal, sehingga kalau dilihat secara statistik, waktu SMP ini saya paling banyak mendapat hukuman dari Guru. Mulai dari dijewer karena tidak mengerjakan PR sampai dipukul kepala sekolah karena mandi di sungai waktu jam pelajaran. Kalau murid sekarang mungkin tidak akan merasakan sensasi dijewer, distrap di depan kelas atau dipukul  seperti yang pernah saya alami waktu itu. Bisa-bisa kalau itu terjadi sekarang, sang guru bakal masuk koran atau dilaporkan ke Polisi. Tapi yang aneh, saya malah paling suka dengan pelajaran guru yang paling sering menjewer saat itu. Suatu kebetulan juga, 2 putra guru SMP sempat menjadi anak didik saya di SMAN 1 Jember, salah satunya menjadi lulusan terbaik tahun kemarin

4. Digugu dan Ditiru
Pak Supriadi, saya masih ingat namanya. Beliau adalah guru paling senior saat itu di SMKN 2 Jember, tempat saya menempuh pendidikan setelah SMP. Dari beliaulah saya kenal istilah Guru : Digugu lan Ditiru. yang kurang lebih artinya sebagai Guru harus menjadi teladan dan contoh yang baik bagi anak didiknya. Kalimat yang mudah diucapkan tapi susah untuk diamalkan. Hal inilah yang membuat saya merasa kurang pantas jika disebut Guru, saya lebih suka disebut pengajar (podho ae )

5. Si Umar Bakrie
Di jaman sekarang ini, mungkin susah untuk menemukan sesosok guru seperti dalam lagu Iwan Fals yang terkenal itu. Banyak guru sekarang, apalagi yang PNS dan sudah sertifikasi hidup sangat berkecupan bahkan mewah. Namun saya yakin hal tersebut adalah buah kerja keras mereka dan mereka memang pantas mendapatkan hal tersebut. Bicara tentang Umar Bakrie, salah satu guru saya di SMK mirip dengan sosok si Umar Bakrie ini. Saat itu, Guru yang satu ini berangkat ke sekolah naik motor bebek butut warna merah yang tak jelas tahun berapa keluarannya plus helm yang pecah di beberapa bagian. Baju dan tasnya pun sederhana dan tak terlihat mahal. Tapi soal mengajar Guru yang satu ini tak kalah semangatnya dengan guru-guru lain yang naik motor yang jauh lebih bagus atau bahkan mobil.

5. Tidak pernah bermimpi menjadi Guru
Menjadi guru adalah hal yang mungkin tidak pernah terbayangkan dalam pikiran saya saat masih sekolah. Tampil di depan kelas, mengajar murid, berinteraksi dengan banyak orang. Saat di sekolah saya paling anti tampil di depan kelas, sangat tidak percaya diri. Bahkan kalau sudah disuruh maju ke depan kelas, keringat segede jagung langsung bercucuran. Tapi Alhamdulillah sejak menempuh pendidkan setingkat D1 di PIKMI, penyakit tidak percaya diri saya berangsur menghilang. Tampil di depan kelas bukan masalah buat saya, meskipun kadang masih agak grogi.

6. Disukai murid dan suka sama murid.
Saya mulai mengajar saat umur 21 tahun, yaitu di SMA dan lembaga setingkat D1. Mengajar umur segitu apalagi di SMA dan D1, masih jomblo lagi, kadang menjadi godaan tersendiri buat saya. Secara saat itu antara saya dan anak didik terpaut umur yang tidak jauh. Pernah beberapa kali saya pernah ditaksir (disukai) sama anak didik sendiri. Saya tidak tahu kenapa bisa disukai, padahal secara fisik, bisa dibilang saya bukan tipe idaman wanita. Atau hanya perasaan saya saja, padahal tidak ada yang suka,(ups..) Naksir sama anak didik, pernah juga sih, beberapa kali, hehe. Tapi itu dulu, masih masa muda. Tak perlu dibahas terlalu banyak, toh sekarang saya sudah dapat gantinya, seorang istri yang cantik, baik, perhatian dan pastinya tidak bisa dikalahkan oleh murid paling cantik sekalipun. 

7. Tidur di Lab
Tercatat saya pernah mengajar di beberapa SMA sebelum akhirnya berlabuh di SMAN 1 Jember. Salah satunya di SMAN 1 Glenmore, Banyuwangi. Satu hal yang menarik di sekolah ini adalah berada di dalam lingkungan pondok pesantren. Saat masih aktif di sekolah ini, tempat tidur dan bekerja saya jadi satu, yaitu di Lab Komputer. Bisa disebut saat itu saya adalah manusia Lab. Untungnya tidak lama saya di sekolah tersebut,  hanya 6 bulan saja.

8. Mengajari Guru
Menjadi suatu tantangan tersendiri saat harus mengajari Guru untuk menggunakan komputer. Terlebih lagi jika guru yang diajari sudah cukup berumur dan tidak pernah pegang komputer sama sekali. Kebanyakan mereka agak susah jika sudah disuruh pegang mouse. Ada yang grogi saat pegang mouse, keliru pegang tombolnya. Sampai ada yang marah karena merasa kabel mousenya kurang panjang. Biasanya, hal ini terjadi saat ingin memindahkan kursor dari atas ke bawah, dimana kabel sudah mentok tapi kursor masih ada di atas layar.

9. Salaman dan Cium tangan Guru
Satu hal yang selalu saya lakukan, selama saya masih ingat dan mengenali wajah Guru jika bertemu entah di jalan, di sekolah atau di manapun. Saya selalu berusaha menyalami dan mencium tangan guru tersebut.  

10. TIK dihapus
Satu hal yang amat saya sayangkan dengan adanya kurikulum 2013 adalah dihapusnya mata pelajaran TIK (Komputer). Padahal pelajaran ini sangat penting bagi siswa, sekalipun siswa dapat belajar komputer secara otodidak. Walhasil setelah 15 tahun mengajar TIK (Komputer) di SMA, akhirnya saya harus pensiun dulu sementara dari pengajaran di kelas. Tapi ada hikmahnya juga, sekarang saya jadi lebih banyak waktu untuk tugas lain yaitu sebagai petugas ICT di SMAN 1 Jember.

Yah.. itulah sedikit cerita dan pengalaman saya tentang Guru. Mohon maaf jika saat dibaca, ada kata-kata yang dianggap kurang pantas.

Terakhir.. saya berdoa mudah-mudahan semua guru-guru saya yang masih hidup, tetap diberi kesehatan, umur yang berkah, keluarga yang bahagia dan semangat dalam menjalankan tugas. Untuk yang sudah meninggal mudah-mudahan segala amal baiknya diterima oleh Allah SWT, dan diberikan tempat yang terbaik di sisiNya. Amin ya Rabbal 'Alamiin.


Orang Jember asli. Operator pendidikan di SMAN 1 Jember.  Suami dari seorang istri. Bapak dari dua anak yang guanteng-guanteng.

1 komentar so far

Yes! Finally someone writes about %keyword1%. itunes login


EmoticonEmoticon